SPJB.Com-
SPJB.Com-
Aturan ini berisi tentang mekanisme perkawinan, perceraian, serta perizinan poligami bagi pegawai negeri sipil di lingkup DKI Jakarta.
Alih-alih menjawab mengenai kompleksitas masalah kota, seperti PHK massal, huniantidak layak, ruang kota yang tidak aman, dan aksesibilitas kota yang belum inklusif, Pemda DKI justru bertindak sebaliknya.
Kami, selaku jaringan masyarakat sipil
yang mempunyai fokus isu pemberdayaan, perlindungan, serta penghapusan
kekerasan terhadap perempuan menyoroti beberapa hal yang perludi perhatikan. Peraturan ini dikhawatirkan tidak menghormati prinsip-prinsip
anti diskriminasi terhadap perempuan dengan legitimasi poligami dalam sebuah
regulasi formal tingkat daerah.
Meninjau lebih lanjut soal hal-hal yang diatur dalam Pergub ini dan mengacu pada dalam PP No. 10 Tahun 1983 dan PP No.95 Tahun 1990 yang bisa dikembangkan sebagai regulasi teknis internal dan mengatur penertiban, misalnya terkait pencatatan data keluarga ASN, pengawasan dan pemeriksaan yang diatur. Selainitu, Pergubinimengatursanksi yang tidak spesifik.
Selainitu, konteks Pergubini
dapat dilihat tidak selaras dengan semangat anti diskriminasi yang sudah
tertuang dalam Ratifikasi CEDAW- Conventiononthe Eliminationo fAll Formsof Discrimination Against Womenmelalui
Undang- Undang No. 7 Tahun 1984 untuk menghapuskan segala bentuk
diskriminasi terhadap perempuan, termasuk penghapusan regulasi-regulasi yang
melanggengkan diskriminasi.
Namun pada Minggu 2 Febuary 2025 Gubernur terpilih Daerah Khusus Kota Jakarta, Bapak Pramono
Anung memberikan pendapat kepada publik menyoal; “Bagi Seluruh ASN di Jakarta
selama saya menjabat, tidak akan diijinkan untuk berpoligami” Berkaitan dengan
pernyataan ini maka kami Jaringan Perempuan Peduli Kota Jakarta yang terdiri
dari beberapa lembaga atau organisasi yang concern pada isu kesetaraan dan keadilan gender menilai bahwa pernyataan Gubernur terpilihsangat
positif dan memberikan penjelasan yang sangat kuat bahwa kedepan Jakarta akan menjadi kota yang
jauh lebih baik, professional, memiliki tata kelola yang berkeadilan dan
mendukung kehidupan keluarga dan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Jaringan
ini diterima di kediaman Pak Pramono Anung pada Kamis, 6 Febuary 2025 pukul
11.00 WIB.
Dalam pertemuan inidisampaikan beberapa masukan Jaringan Perempuan Peduli Kota Jakarta untuk mendukung upaya-upaya positif yang akan dilakukan oleh Gubernur terpilih dalam memproses kebijakan-kebijakan yang memberi dampak ketidakadilan bagi warganya, termasuk prakti kpoligami yang berpotensi mendiskriminasikan perempuan untuk memperoleh kesetaraan dalam kehidupan perkawinan dan keluarga.
konkrit pada saat menjalankan mandat memimpin kota Jakartayangmenjaditolakukurbagi daerah- daerah lainnya.
Dalam pertemuan ini Gubernur terpilih menyatakan kesediaannya
untuk merealisasikan perbaikan kebijakan untuk Kota Jakarta kedepan yang lebih aman, ramah,
professional
dan humanis. Kota Jakarta kedepan diharapkan menjadi percontohan global yang
menjalankan tata kelola pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan akuntabel.
Dalam pertemuan kurang lebih 60 menit ini, Jaringan Perempuan Peduli Kota Jakarta juga menyampaikan beberapa rekomendasi lainnya yang dapat menjadi perhatian dan pertimbangan Gubernur Jakarta untuk ditindaklanjuti, seperti; memastikan layanan publik yang ramah, aman dan nyaman untuk semua warga Jakarta;
Membangun mekanisme perlindungan dan penanganan kekerasan berbasis gender-seksual yang mudah diakses oleh perempuan, anak dan kelompok rentan lainnya; Menguatkan unit-unit layanan warga untuk melaporkan kekerasan dan layanan yang murah dan berkualitas bagi warganya;
Memastikanpartisipasimasyarakatsipiluntukberkontribusisecara bermakna untuk pembangunan kota Jakarta; Menindaklanjuti berbagai kebijakan yang baik untuk direalisasikan di Jakarta seperti, Raperda Bantuan Hukum, Raperda perlindungan perempuan dan anak,RaperdaPencegahanEkstrimisme,dansejumlahinisiasibaikyangtelahdiprosessebelumnya.
MikeVerawati-081332929509 Ririn Sefsani - 081317680540 Mutya Gustina–081210972543
Tidak ada komentar